Close

March 28, 2017

Kosmetik Haram Menurut MUI: Ketentuan dan Rekomendasi MUI

Kosmetik merupakan salah satu zat perawatan yang berguna untuk mempercantik penampilan seseorang. Dimana biasanya terbuat dari campuran berbagai senyawa kimia atau bahkan masih berasal dari bahan yang bersifat alami. Namun sebagai seorang muslim, penggunaan kosmetik tidak hanya memperhatikan kualitas dan efek yang diberikannya, melainkan juga harus dipastikan bahwa produk tersebut halal, yakni mampu memberikan manfaat dan tidak berbahaya, baik kosmetik yang digunakan di luar maupun di dalam.

syarat halal dan unsur haramMenurut panduan umat Islam, Al Quran dan Al Hadits, bahan yang termasuk haram atau belum dapat dipastikan kehalalan dan haramnya rupanya memiliki jumlah yang lebih sedikit jika dibandingkan dengan bahan yang halal atau yang diperbolehkan. Mengingat jumlah produk kosmetik yang halal memang sudah cukup banyak. Inilah ketentuan hukum dan rekomendasi penggunaan kosmetik menurut Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Ketentuan hukum menggunakan kosmetik

  1. Menggunakan kosmetik untuk berhias hukumnya boleh, namun jika produk kosmetik yang digunakan tersebut telah memenuhi beberapa syarat, yakni bahan yang digunakan bersifat suci dan halal, tidak berbahaya dan bertujuan untuk kepentingan yang telah diperbolehkan secara syar’i.
  2. Menggunakan kosmetik untuk pemakaian luar yang berbahan dasar haram atau najis rupanya masih diperbolehkan asalkan setelah pemakaian segera melakukan penyucian sesegera mungkin. Namun hal ini tidak berlaku jika bahan dasar yang terkandung dalam kosmetik tersebut ialah berkaitan dengan babi.
  3. Menggunakan kosmetik yang masuk ke dalam tubuh (dikonsumsi) yang berbahan dasar haram atau najis hukumnya haram.
  4. Menggunakan kosmetik dengan tujuan sebagai obat memiliki ketentuan hukum sebagai obat dan mengacu pada fatwa tentang penggunaan obat-obatan.
  5. Haram hukumnya menggunakan produk kosmetik yang mengandung bahan yang berasal dari mikroba hasil rekayasa genetika yang ada kaitannya dengan gen babi atau gen manusia.
  6. Jika penggunaan kosmetik hanya semata-mata untuk tahsiniyyat, tidak ada keringanan sedikit pun untuk menggunakan kosmetik yang hukumnya haram. Al-tahsiniyyat adalah (tersier) yaitu semua keperluan dan perlindungan yang diperlukan agar kehidupan menjadi nyaman dan lebih nyaman lagi, mudah dan lebih mudah lagi, lapang dan lebih lapang lagi, begitu seterusnya. Dengan istilah lain adalah keperluan yang dibutuhkan manusia agar kehidupan mereka berada dalam kemudahan, kenyamanan, kelapangan
  7. Produk kosmetik yang terbuat dari bahan mikrobial namun tidak diketahui bahan penyusunnya secara jelas, maka sebaiknya dihindari hingga ditemukan kejelasan terkaitketidakpastian kehalalan dan kesucian bahannya.
  8. Produk kosmetik yang terbuat dari bahan turunan hewan halal, baik yang berupa lemak atau lainnya, sebaiknya dihindari jika tidak diketahui cara penyembelihannya karena hukumnya makruh tahrim. Makruh tahrim adalah perkara yang dilarang oleh syariah dengan larangan yang pasti (haram) dengan dasar dalil yang dzanni (praduga).

Rekomendasi penggunaan kosmetik

  1. Pemerintah senantiasa mengatur dan menjamin ketersediaan kosmetika halal dan suci, yang mana ia berpedoman pada fatwa yang dikeluarkan atau berasal dari MUI.
  2. Masyarakat diminta untuk senantiasa memiliki produk kosmetik yang suci dan halal. Dengan demikian, masyarakat juga diminta untuk menghindari produk kosmetik yang haram dan bernajis, makruh tahrim, serta kosmetik yang memiliki bahan dasar yang belum dapat dipastikan kehalalan dan kesuciannya.
  3. Selain pemerintah dan masyarakat, para pelaku usaha juga diminta agar selalu memastikan produk kosmetik yang diperjualbelikan kepada umat Islam tersebut suci dan halal.
  4. LPPOM MUI tidak akan pernah mengeluarkan atau memberikan sertifikasi halal pada produk kosmetik yang terbuat dari bahan yang haram dan mengandung najis, baik kosmetik tersebut merupakan kosmetika luar maupun dalam.
  5. LPPOM MUI tidak akan pernah mengeluarkan atau memberikan sertifikasi halal pada produk kosmetik yang tidak dapat dipastikan kehalalan dan kesuciannya hingga menemukan sebuah kejelasan.

Tidak hanya merancang ketentuan hukum dan rekomendasi penggunaan kosmetik, Majelis Ulama Indonesia juga mengungkapkan berbagai bahan atau unsur penyusun kosmetik yang najis dan meragukan yang tidak dapat dipastikan kehalalan dan kesuciannya. Berikut bahan penyusun kosmetik yang sebaiknya dihindari.

Unsur yang bersifat haram dan tidak boleh ada dalam produk kosmetik :

  1. Unsur yang berasal dari tubuh manusia
  2. Unsur yang berkaitan dengan babi dan anjing
  3. Unsur yang berasal dari hewan buas
  4. Bangkai
  5. Darah
  6. Khamar (alkohol)
  7. Hewan yang halal namun karena proses penyembelihannya yang tidak sesuai dengan syarit islam maka bersifat haram.

Unsur yang bersifat syubhat (meragukan) dan harus senantiasa diwaspadai :

  1. Kolagen
  2. Plasenta
  3. Vitamin
  4. Gliserin
  5. Lactic Acid
  6. Hormon
  7. Aneka pewarna, pewangi dan lain sebagainya.

Dengan informasi diatas, diharapkan produsen-produsen dapat memberikan produk berkualitas dan halal agar masyarakat Indonesia yang mayoritas  muslim merasa aman dan nyaman saat memilih kosmetik dan kesadaran masyarakat untuk lebih selektif akan kemungkinan adanya unsur-unsur tidak halal dalam produk  kosmetik yang mereka pakai.